|
Filosofi Makanan dan Diri Manusia // Jumat, 13 September 2013 @ 02.53
Hidup untuk makan atau makan untuk hidup yang kamu pilih?
setiap jawaban yang kita pilih ini mengandung makna yang filosofis. setiap jawaban yang kita pilih mengandung makna yang dapat mencerminkan kepribadian diri kita juga. jadi apa yang kamu pilih? : )
apabila kamu memilih hidup untuk makan...
apabila kamu memilih hidup untuk makan, berarti tujuan utamamu untuk hidup ini adalah untuk makan. untuk mencapai kepuasan kebutuhan jasmaniah amaupun rohaniah berupa lezatnya rasa makanan itu. hal ini dapat mencerminkan bahwa nafsu atau kebutuhan akan kenikmatan lebih dominan dalam kepribadian kita. kehidupan ini bertujuan untuk memuaskan keinginan-keinginan kita saja.
apabila kamu memilih makan untuk hidup...
apabila kamu memilih makan untuk hidup, berarti kamu makan memiliki tujuan untuk mempertahankan hidup. makan digunakan untuk tetap survive dalam hidup, sekaligus untuk tetap dapat melakukan kegiatan produktif maupun non produktif dalam kehidupan ini. makan dalam hal ini berarti untuk memenuhi kebutuhan hidup, bukan berarti hidup hanya untuk memenuhi keinginan untuk makan.
lalu apakah yang kamu pilih? : )
referensi: kuliah pengantar gizi
Label: gizi
Ironi dan Solusi Gizi Buruk // Selasa, 27 Agustus 2013 @ 02.32
Ironi dan Solusi Gizi Buruk
Indonesia merupakan negara yang kaya raya tentang sumber daya alamnya, begitu banyak sumber makanan nabati maupun hewani yang tersedia di Indonesia. Hal ini didukung dengan iklim tropis dan tanah abu vulkanis yang ada di Indonesia, sehingga berbagai macam tumbuhan dan hewan dapat hidup di sini. Seperti padi, singkong, sayur mayur, susu, kerbau, ikan, dan berbagai macam daging unggas yang bisa dengan mudah didapat. Makanan ini mengandung nilai gizi yang banyak dan bagus untuk kesehatan, sehingga secara teori pemenuhan gizi di Indonesia sudahlah cukup, bahkan bisa saja berlebih.
Namun beberapa waktu ini wilayah nusantara digemparkan dengan beberapa kasus gizi buruk yang tersebar di wilayahnya. Mulai dari daerah pelosok, hingga dari daerah perkotaan bahkan di kota besar seperti Jakarta masih terdapat kasus gizi buruk. Hal ini ironi dengan kekayaan sumber makanan yang terdapat di negeri ini. Terlebih lagi Indonesia pernah berhasil melakukan swasembada beras pada tahun... . Hal ini perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah, praktisi kesehatan maupun masyarakat secara umum.
Gizi buruk ini sebagian besar terjadi pada usia anak-anak, yang merupakan masa pertumbuhan yang memerlukan banyak asupan gizi dan terjadi pertumbuhan untuk mendapatkan tubuh yang ideal. Dan apabila kebutuhan gizi mereka kurang, maka pertumbuhan tubuh mereka terhambat, mereka menjadi lemah. Kondisi tubuh mereka yang lemah mengakibatkan mereka memiliki kekebalan tubuh yang rendah, dan sistem imun yang rendah ini apabila terjadi suatu epidemi penyakit seperti demam berdarah, kolera mereka akan mudah terjangkiti. Hal ini bisa mengakibatkan usia anak-anak cenderung rendah apabila tidak ditangani secara serius.
Selain kondisi tubuh, kondisi mental dan intelektual anak gizi buruk cenderung lebih rendah daripada dengan anak yang bergizi normal. Sehingga butuh perlakuan lebih untuk menanganinya. Perpaduan dari basic science seperti ilmu biologi, matematika, fisika, dan kimia juga perlu direka sedemikian rupa agar mereka yang memiliki intelektual sedikit lebih rendah bisa memahami ilmu-ilmu tersebut.
Perlu dilakukan peran pemerintah bisa dilakukan dengan mengadakan penyuluhan bekerjasama dengan dinas kesehatan, melakukan pengobatan bagi penderita gizi buruk di rumah sakit atau puskesmas, dan juga perbaikan fasilitas-fasilitas dan tenaga kesehatan yang ada di masyarakat. Penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat ini dapat dilakukan dengan ilmu kesehatan masyarakat, yaitu sesuai dengan arti IKM : ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat untuk perbaikan sanitasi lingkungan, pembersihan penyakit-penyakit menular, pendidikan untuk kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan, serta pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya (Winslow (1920)). Dalam IKM terdapat metode untuk menangani gizi buruk , dengan berbagai aplikasi disiplin ilmu, seperti biokimia, sosiologi, Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Biostatistika dan Kependudukan, Epidemiologi, Gizi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.
Sehingga diharapkan kasus gizi buruk di Indonesia dapat tertangani dengan program-program kesehatan masyarakat, dan yang lebih utama kesadaran masyarakat untuk saling membantu dan melaksanakan program gizi sehat dari pemerintah. Semoga kasus gizi buruk di Indonesia tidak terulang lagi.
Referensi:
diakses tanggal 19 September 2012, waktu 08.45 WIB
Label: gizi
stigma // Minggu, 28 Juli 2013 @ 20.13
berhenti. ketika membaca kata ini apa yang terlintas
dalam pikiran anda? apakah hal yang bernada positif atau negatif. kalau anda
berpikiran negatif sesungguhnya kata berhenti tidak selamanya berkonotasi
buruk. berhenti merokok contohnya, semakin membuat orang sehat kan? begitu pula
sering kita temukan dengan kata-kata lainnya. terkadang suatu kata sudah
terstigma negatif. masyarakat seringkali terjebak dengan stigma tersebut.
padahal tidak selamanya apa-apa yang ada dalam kenyataan hidup itu buruk.
dalam kehidupan sehari-hari contohnya adalah ketika seseorang terpaksa harus bertempat tinggal di pinggiran kali. apakah orang itu tidak memikirkan keselamatan dan kesehatan hidupnya? tentu saja mereka memikirkan itu. kemudian mengapa orang itu tidak bertempat tinggal di tempat yang lebih aman? jauh dari air yang dapat menjadi sumber hazard yang berbahaya di hidupnya maupun keluarganya yang lain? kalau saja kita tidak mau berpikir lebih jauh, mungkin kita menganggap orang tersebut memang tidak memikirkan keselamatan dan kesehatan tersebut. namun ada beberapa hal yang mungkin tidak terlintas dalam benak kita terhadap orang tersebut. pernahkah terpikir kalu mungkin saja orang itu hanya tinggal sementara di situ, sementara karena terlibat suatu masalah keungan yang megakibatkan ia harus mencari tempat tinggal yang murah. atau saja memang orang itu suka bertempat tinggal di pinggir kali, sehingga dekat dengan tempat pekerjaannya yang memang terletak di daerah itu. intinya, ketika melihat suatu hal kita tidak dapat melihatnya secara sebagian saja. ketika menilai orang lain sebaiknya dilihat dulu latar belakangnya. mungkin gara-gara latar belakangnya itu dia memiliki cara pandang yang berbeda. mungkin dan banyak kemungkinan yang dapat terjadi selain itu. dalam hal ini hidup di pinggiran kali telah terstigma dengan kehidupan tidak memikirkan keselamatan dan kesehatan. kembali lagi tentang stigma, stigma atau pandangan sekelompok manusia yang telah melekat pada suatu hal baik itu benda, sekelompok makhluk hidup atau lainnya dapat menimbulkan banyak reaksi dari orang yang melihat terhadap suatu stigma yang ia lihat itu. mungkin kepada sesuatu yang berstigma positif seseorang akan selalu berusaha untuk mendekati hal itu, kemudian kepada sesuatu yang berstigma buruk seseorang akan menjauhinya. hal ini akan bermasalah apabila stigma yang melekat itu sesungguhnya berlawanan dengan apa yang terjadi. perlu dilakukan upaya-upaya untuk menghentikan stigma tersebut apabila memang tidak benar dengan kenyataan. Dari asalnya, stigma ini dapat timbul apabila masyarakat mendapat impuls yang sama berkali-kali terhadap hal tersebut, ia dapat berasal dari berita media massa, kepercayaan turun-menurun, maupun adat istiadat setempat. sehingga masyarakat menganggap hal itu memang ada dan memang itu terjadi pada hal tersebut, melekat erat dan cenderung sulit untuk menghilangkan stigma itu.sehingga upaya-upaya untuk menghilangkan stigma itu harus dilakukan secara terus-menerus. selain itu perlu ditanamkan pemahaman yang baik terhadap masyarakat yang menganut paham stigma itu agar mereka terbebas dari stigma yang salah. |