<body><script type="text/javascript"> function setAttributeOnload(object, attribute, val) { if(window.addEventListener) { window.addEventListener('load', function(){ object[attribute] = val; }, false); } else { window.attachEvent('onload', function(){ object[attribute] = val; }); } } </script> <div id="navbar-iframe-container"></div> <script type="text/javascript" src="https://apis.google.com/js/platform.js"></script> <script type="text/javascript"> gapi.load("gapi.iframes:gapi.iframes.style.bubble", function() { if (gapi.iframes && gapi.iframes.getContext) { gapi.iframes.getContext().openChild({ url: 'https://www.blogger.com/navbar/3188386746974878656?origin\x3dhttps://pedulisehatmu.blogspot.com', where: document.getElementById("navbar-iframe-container"), id: "navbar-iframe" }); } }); </script>
twitter @sabilasaf
I'm Muslim and I Proud ^_^
tagboard code here. make sure the width is set to 160px.
Ironi dan Solusi Gizi Buruk // Selasa, 27 Agustus 2013 @ 02.32

Ironi dan Solusi Gizi Buruk

Indonesia merupakan negara yang kaya raya tentang sumber daya alamnya, begitu banyak sumber makanan nabati maupun hewani yang tersedia di Indonesia. Hal ini didukung dengan iklim tropis dan tanah abu vulkanis yang ada di Indonesia, sehingga berbagai macam tumbuhan dan hewan dapat hidup di sini. Seperti padi, singkong, sayur mayur, susu, kerbau, ikan, dan berbagai macam daging unggas yang bisa dengan mudah didapat. Makanan ini mengandung nilai gizi yang banyak dan bagus untuk kesehatan, sehingga secara teori pemenuhan gizi di Indonesia sudahlah cukup, bahkan bisa saja berlebih.

Namun beberapa waktu ini wilayah nusantara digemparkan dengan beberapa kasus gizi buruk yang tersebar di wilayahnya. Mulai dari daerah pelosok, hingga dari daerah perkotaan bahkan di kota besar seperti Jakarta masih terdapat kasus gizi buruk. Hal ini ironi dengan kekayaan sumber makanan yang terdapat di negeri ini. Terlebih lagi Indonesia pernah berhasil melakukan swasembada beras pada tahun... . Hal ini perlu mendapatkan perhatian dari pemerintah, praktisi kesehatan maupun masyarakat secara umum.

Gizi buruk ini sebagian besar terjadi pada usia anak-anak, yang merupakan masa pertumbuhan yang memerlukan banyak asupan gizi dan terjadi pertumbuhan untuk mendapatkan tubuh yang ideal. Dan apabila kebutuhan gizi mereka kurang, maka pertumbuhan tubuh mereka terhambat, mereka menjadi lemah.  Kondisi tubuh mereka yang lemah mengakibatkan mereka memiliki kekebalan tubuh yang rendah, dan sistem imun yang rendah ini apabila terjadi suatu epidemi penyakit seperti demam berdarah, kolera mereka akan mudah terjangkiti. Hal ini bisa mengakibatkan usia anak-anak cenderung rendah apabila tidak ditangani secara serius.

Selain kondisi tubuh, kondisi mental dan intelektual anak gizi buruk cenderung lebih rendah daripada dengan anak yang bergizi normal. Sehingga butuh perlakuan lebih untuk menanganinya. Perpaduan dari basic science seperti ilmu biologi, matematika, fisika, dan kimia juga perlu direka sedemikian rupa agar mereka yang memiliki intelektual sedikit lebih rendah bisa memahami ilmu-ilmu tersebut.
Perlu dilakukan peran pemerintah bisa dilakukan dengan mengadakan penyuluhan bekerjasama dengan dinas kesehatan, melakukan pengobatan bagi penderita gizi buruk di rumah sakit atau puskesmas, dan juga perbaikan fasilitas-fasilitas dan tenaga kesehatan yang ada di masyarakat. Penyuluhan-penyuluhan kepada masyarakat ini dapat dilakukan dengan ilmu  kesehatan masyarakat, yaitu sesuai dengan arti IKM : ilmu dan seni mencegah penyakit, memperpanjang hidup, dan meningkatkan kesehatan melalui usaha-usaha pengorganisasian masyarakat untuk perbaikan sanitasi lingkungan, pembersihan penyakit-penyakit menular, pendidikan untuk kebersihan perorangan, pengorganisasian pelayanan-pelayanan medis dan perawatan untuk diagnosis dini dan pengobatan, serta pengembangan rekayasa sosial untuk menjamin setiap orang terpenuhi kebutuhan hidup yang layak dalam memelihara kesehatannya (Winslow (1920)). Dalam IKM terdapat metode untuk menangani gizi buruk , dengan berbagai aplikasi disiplin ilmu, seperti biokimia, sosiologi, Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Biostatistika dan Kependudukan, Epidemiologi, Gizi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku.

Sehingga diharapkan kasus gizi buruk di Indonesia dapat tertangani dengan program-program kesehatan masyarakat, dan yang lebih utama kesadaran masyarakat untuk saling membantu dan melaksanakan program gizi sehat dari pemerintah. Semoga kasus gizi buruk di Indonesia tidak terulang lagi.

Referensi:
diakses tanggal 19 September 2012, waktu 08.45 WIB

Label:



©